Langsung ke konten utama

KOMPLIKASI YANG TERJADI PADA MASA NIFAS

a.       Perdarahan Postpartum
1)      Definisi Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya darah 500 mL atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan. Perdarahan postpartum adalah penyebab penting kematian ibu. Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir). Perdarahan postpartum adakalanya perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat wanita jatuh kedalam syok, ataupun merupakan perdarahan yang menetes perlahan-lahan tapi terus-menerus, dan ini juga berbahaya karena akhirnya jumlah perdarahan menjadi banyak yang mengakibatkan wanita menjadi lemas dan juga jatuh dalam syok.
(Astuti, 2015)
2)      Klasifikasi Perdarahan Postpartum
a)      Perdarahan Postpartum Primer
Perdarahan postpartum primer yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir, dan inversio uteri.
b)      Perdarahan Postpartum Sekunder
Perdarahan postpartum sekunder yaitu perdarahan pasca persalinan yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.
(Astuti, 2015)
3)      Gejala Perdarahan Postpartum
a)      Gejala Klinis
Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinis. Gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah sebanyak 20%. Gejala klinis berupa perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu :
(1)   Ibu pucat
(2)   Tekanan darah rendah
(3)   Denyut nadi cepat dan kecil
(4)   Ekstremitas dingin
b)      Gejala Umum
(1)   Perdarahan pervaginam yag hebat atau tiba-tiba bertambah banyak.
(2)   Konsistensi rahim lunak
(3)   Fundus uteri naik (kalau pengaliran darah keluar terhalang oleh bekuan darah atau selaput janin)
(4)   Tanda-tanda Syok
(5)   Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
(6)   Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung
(7)   Sakit kepala terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan.
(8)   Pembengkakan di wajah/tangan
(9)   Demam, muntah, rasa sakit saat BAK, merasa tidak enak badan
(10)   Payudara yang berubah menadi merah, panas, dan atau terasa sakit
(11)   Kehilangan nafsu makan pada saat yang sama
(12)   Rasa sakit, merah, lunak dan pembengkakan di kaki.
(13)   Merasa sedih, merasa tidak mampu mengasuh sendiri bayinya/diri sendiri
(14)   Merasa sangat letih, nafas terengah-engah
(Astuti, 2015)
4)      Penyebab Perdarahan Postpartum
a)      Atonia Uteri
Atonia Uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tiak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah.akibat ari atonia uteri adalah terjadinya perdarahan. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan. Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat:
(1)   Partus lama
(2)   Pembesaran uterus yang berlebihan pada saat hamil, seperti pada hamil kembar, hidramnion, atau janin besar.
(3)   Multiparitas
(4)   Anastesi yang dalam
(5)   Anastesi lumbal
Selain itu atonia uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala tiga persalinan, yaitu memijat uterus dan mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, dimana sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus.
b)      Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. Hal ini disebabkan :
(1)   Plasenta belum lepas dari dinding uterus
(2)   Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan
Bila plasenta belum lepas sama sekali maka tidak akan terjadi perdarahan, tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus disebabkan:
(1)   Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesif)
(2)   Plasenta melekat erat pada inding uterus karena villi korialis menebus desidua sampai miometrium (plasenta akreta)
(3)   Plasenta merekat erat pada dinding uterus karena villi korialis menembus sampai dibawah peritoneum (plasenta perkreta)
Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, hal ini disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala tiga, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta)
c)      Sisa plasenta
Saat suatu bagian dari plasenta tertinggal maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Inspeksi plasenta segera setelah persalinan harus menadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang maka uterus harus dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan
d)      Robekan jalan lahir
Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahannya sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum, vagina, serviks, dan robekan uterus (rupture uteri). Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat arteri atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan, dapat dilakukan dengan pemerikaan dalam dan pemeriksaan spekulum. Setelah sumber perdarahan diketahui dengan pasti, perdarahan dihentikan dengan melakukan ligasi.
e)      Inversio uteri
Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam cavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi perlahan. Peristiwa ini jarang sekali ditemukan dan dapat terjadi tiba-tiba dalam kala tiga atau segera setelah plasenta keluar. Penyebab inversio uteri yang tersering adalah kesalahan dalam memimpin kala tiga, yaitu menekan fundus uteri terlalu kuat dan menarik tali pusat pada plasenta yang belum terlepas dari insersinya.
Menurut perkembangannya, inversio uteri dibagi dalam beberapa tingkat, yaitu :
(1)   Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri, tetapi belum keluar dari ruang tersebut
(2)   Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina
(3)   Uterus dengan vagina semua terbalik, untuk sebagian besar terletak diluar vagina
Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas. Akan tetapi, apabila kelainan itu sejak awal tumbuh dengan cepat, sering kali timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok.
(Astuti, 2015)
5)        Faktor Risiko Perdarahan Postpartum
Riwayat perdarahan postpartum pada persalinan sebelumnya merupakan faktor risiko paling besar untuk terjadinya pedarahan postpartum, sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menentukan keparahan dan penyebabnya. Beberapa faktor lain yang perlu diketahui karena dapat menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum :
a)    Grande multipara
b)   Perpanjangan persalinan
c)    Chorioamnionitis
d)   Kehamilan multiple
e)    Ineksi magnesium sulfat
f)    Perpanjangan pemberian oksitosin
(Astuti, 2015)
6)        Diagnosis Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum digunakan untuk persalinan dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu, karena apabila usia kehamilan kurang dari 20 minggu disebut sebagai aborsi spontan.
Berikut langkah-langkah sistematik untuk mendiagnosis perdarahan postpartum:
a)    Mempalpasi uterus untuk mengetahui bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
b)   Memeriksa plasenta dan selaput ketuban apakah lengkap atau tidak
c)    Melakukan eksplorasi kavum uteri untuk mencari :
(1)   Sisa plasenta
(2)   Robekan rahim
(3)   Plasenta succenturiata
d)   Inspekulo untuk melihat robekan pada serviks, vagina, dan varises yang pecah
e)    Melakukan pemeriksaan laboratorium : waktu perdarahan (bleeding time), HB, tes pembekuan darah (clot observation test) dan lain-lain.
(Astuti, 2015)

7)   Penilaian Klinis Perdarahan Postpartum
Tabel 2.3 Penilaian Klinis untuk Menentukan Deraat Syok
Volume Kehilangan Darah
Tekanan Darah (sistolik)
Gejala dan Tanda
Derajat Syok
500-1000 mL
(10-15%)
Normal
Palpitasi, takikardia, pusing
Terkompensasi
1000-1500 mL
(15-25%)
Penurunan Ringan
(80-100 mmHg)
Lemah, takikardia, berkeringat
Ringan
 1500-2000 mL
(25-35%)
Penurunan Sedang
(70-80 mmHg)
Gelisah, pucat, oliguria
Sedang
2000-3000 mL
(35-50%)
Penurunan Berat
(50-70 mmHg)
Pingsan, hipoksia, anuria
Berat

Tabel 2.4 Penilaian Klinis untuk Menentukan Penyebab Perdarahan Postpartum
No
Gejala dan Tanda yang Selalu Ada
Gejala dan Tanda yang Kadang Ada
Diagnosis Kemungkinan
1
·    Uterus tidak berkontraksi dan lembek
·    Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer)
·   Syok
·   Bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar
·    Atonia Uteri
2
·    Perdarahan segera
·    Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer)
·    Uterus kontraksi baik
·    Plasenta lengkap
·    Pucat
·    Lemah
·    Menggigil
·    Robekan jalan lahir
3
·    Plasenta belum lahir setelah 30 menit
·    Perdarahan segera
·    Uterus kontraksi baik
·    Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
·    Inversio uteri akibat tarikan
·    Perdarahan lanjut
·    Retensi plasenta
4
·    Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap
·    Perdarahan segera
·    Uterus berkontraksi, tetapi tinggi fundus tidak berkurang
·    Tertinggalnya sebagian plasenta
5
·    Uterus tidak teraba
·    Lumen vagina terisi massa
·    Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
·    Perdarahan segera
·    Nyeri sedikit atau berat
·    Syok neurogenik
·    Pucat dan limbung
·    Inversio uteri
6
·    Sub-involusi uterus
·    Nyeri tekan perut bawah
·    Perdarahan lebih dari 24 jam setelah persalinan, perdarahan sekunder
·    Perdarahan bervariasi (ringan atau berat, terus menerus atau teratur) dan (berbau jika disertai infeksi)
·    Anemia
·    Demam
·    Perdarahan terhambat
·    Endometritis atau sisa plasenta (terinfeksi atau tidak)
7
·    Perdarahan segera (intraabdominal dan atau vagina)
·    Nyeri perut berat
·    Syok
·    Nyeri tekan perut
·    Denyut nadi ibu cepat
·    Robekan dinding uterus

8)   Pencegahan dan Penatalaksanaan Pedarahan Postpartum
a)      Pencegahan
Tindakan pencegahan sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi perdarahan pada masa nifas. Pencegahan dapat dilakukan sejak masa hamil dan dalam persalinan.

(1)   Perawatan masa kehamilan
Menangani anemia dalam kehamilan merupakan hal yang sangat penting. Ibu yang mengalami predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit.
(2)   Persiapan persalinan
Dirumah sakit dilakukan pemeriksaan keadaan fisik, keadaan umum, kadar HB, golongan darah, dan bila memungkinkan disediakan donor darah dan dititipkan di bank darah. Pemasangan kateter intravena dengan lubang yang besar disiapkan apabila diperlukan transfusi. Untuk ibu yang mengalami anemia berat, sebaiknya langsung dilakukan transfusi. sangat dianjurkan bagi ibu yang berisiko mengalami perdarahan postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan.
(3)   Persalinan
Setelah bayi dan plasenta lahir, dilakukan massase uterus dengan arah gerakan sirkular sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. Masase yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi yang akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terajadinya perdarahan postpartum
(4)   Kala tiga dan kala empat
Pemberian oksitosin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%.
(Astuti, 2015)
b)      Penatalaksanaan
Tujuan utama pertolongan pada ibu dengan perdarahan postpartum adalah menemukan dan menghentikan penyebab perdarahan secepat mungkin. Terapi pada ibu yang mengalami perdarahan postpartum (Hemorraghe Postpartum) terdiri dari 2 bagian pokok, yaitu resusitasi dan penanganan penyebab perdarahan.
(1)   Resusitasi
Apabila terjadi perdarahan postpartum yang banyak, maka penanganan awal yang dilakukan yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan secara cepat untuk mengganti cairan dan memelihara volume sirkulasi darah ke organ-organ penting. Selain itu dilakukan pemantauan tanda-tanda vital, jumlah perdarahan, jumlah urin, kesadaran, dan pemantauan sirkulasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah. Pastikan tersedia dua kateter intravena berukuran besar untuk memudahkan pemberian cairan dan darah secara bersamaan apanila diperlukan resusitasi cairan secara cepat.
(a)   Pemberian cairan . diberikan normal saline atau ringer laktat
(b)   Transfusi darah. Berupa whole blood ataupun packed red cell
(c)   Evaluasi pemberian cairan. Memantau produksi urin (perfusi cairan ke ginjal dikatakan adekuat bila produksi urin dalam 1 jam sebesar 30cc atau lebih).

(2)   Penanganan sesuai penyebab
(a)   Atonia uteri
Periksa ukuran dan tonus uterus dengan meletakkan satu tangan di fundus uteri dan melakukan masase untuk mengeluarkan bekuan darah di uterus dan vagina. Apabila terus teraba lembek dan tidak berkontraksi dengan baik, maka perlu dilakukan masase yang lebih keras dan pemberian oksitosin. Pengosongan kandung kemih bisa mempermudah kontraksi uterus dan memudahkan tindakan selanjutnya. Kompresi bimanual dilakukan apabila perdarahan masih berlanjut.
(b)   Sisa plasenta
Apabila kontraksi uterus jelek atau kembali lembek setelah kompresi bimanual ataupun masase dihentikan, maka secara bersamaan diberikan uterotonika dan dilakukan eksplorasi
(c)   Trauma jalan lahir
Perlukaan jalan lahir merupakan penyebab perdarahan apabila uterus sudah berkontraksi dengan baik tetapi perdarahan terus berlanjut. Eksplorasi jalan lahir dilakukan untuk mencari perlukaan jalan lahir dengan penerangan yang cukup. Reparasi penjahitan dilakukan setelah diketahui sumber perdarahan.
(d)   Gangguan pembekuan darah
Jika manual eksplorasi telah menyingkirkan adanya rupture uteri, serta sisa plasenta, dan perlukaan jalan lahir disertai kontraksi uterus yang bai, maka kecurigaan penyebab perdarahan adalah gangguan pembekuan darah. Dengan demikian selanutnya dilakukan pemberian produk darah pengganti (trombosit, fibrinogen).
 (Astuti, 2015)
b.      Infeksi Masa Nifas
1)      Definisi Infeksi Masa Nifas
Infeksi nifas atau puerperium adalah infeksi bakteri yang berasal dari saluran reproduksi selama persalinan atau puerperium. Infeksi puerperalis adalah infeksi luka jalan lahir postpartum yang biasanya dari endometrium atau bekas insersi plasenta. Demam dalam nifas sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas, maka demam pada nifas merupakan gejala penting dari penyakit ini. Demam ini melibatkan kenaikan suhu sampai 38ºC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pascapersalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.
 (Astuti, 2015)
2)      Etiologi
Kemungkinan besar adalah penolong itu sendiri yang membawa kuman ke dalam rahim ibu dengan membawa kuman yang telah ada di dalam vagina ke atas, misalnya melalui pemeriksaan dalam. Mungkin juga tangan penolong atau alat alatnya masuk membawa kuman-kuman dari luar.  Bakteri penyebab sepsis puerperalis diantaranya:
a)    Streptokokus
b)   Stafilokokus
c)    E. Coli
d)   Clostridium tatani
e)    Clostridium welchi
f)    Clamidia dan gonokokus.
(Astuti, 2015)
3)      Faktor Predisposisi
Faktor terpenting yang memudahkan terjadinya infeksi nifas adalah perdarahan dan trauma persalinan. Perdarahan menurunkan daya tahan ibu, sedangkan trauma membuat porte d’entree, dan jaringan nekrosis merupakan lahan yang subur bagi kuman. Selanutnya partus yang lama, retensio plasenta sebagian atau seluruhnya dapat memudahkan terjadinya infeksi. Akhirnya, keadaan umum ibu merupakan faktor yang menentukan, seperti anemia, atau malnutrisi yang sangat melemahkan daya tahan ibu. Faktor lain yang mencakup :
a)    Teknik aseptik yang tidak baik dan benar.
b)   Pemeriksaan vagina selama persalinan.
c)    Manipulasi intrauterus.
d)   Trauma/luka terbuka
e)    Perawatan perineum yang tidak tepat
f)    Infeksi vagina/serviks atau penyakit menular seksual yang tidak ditangani
(Astuti, 2015)
4)      Patologi
Setelah persalinan, tempat bekas perlekatan plasenta pada dinding rahimmerupakan luka yang cukup besa. Patologi infeksi nifas atau infeksi puerperium sama dengan infeksi luka. Infeksi tersebut adalah sebagai berikut:
a)    Terbatas pada luka (infeksi luka puerperium, vagina, serviks, atau endometrium).
b)   Infeksi itu menalar dari luka ke jaringan di sekitarnya (tromboflebitis, para metritis, salpingitis, peritonitis).
(Astuti, 2015)
5)      Cara Infeksi
Terdapat bermacam-macam jalan agar kuman dapat masuk kedalam alat kandungan, yaitu eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh), dan endogen (kuman masuk dari jalan lahir itu sendiri). Infeksi dapat terjadi sebagai berikut:
a)    Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina kedalam uterus. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat-alat yang dimasukan kedalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman.
b)   Infeksi droplet. Sarung tangan atau alat dapat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu hidung dan mulut petugas yang bertugas dikamar bersalin harus ditutup dengan masker dan ibu yang mengalami infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin.
c)    Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman patogen yang berasal dari pasien dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana termasuk kain, alat-alat yang suci hama, dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada saat nifas.
d)   Koitus pada akhir kehamilan bukan merupakan penyebab infeksi yang penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
(Astuti, 2015)
6)      Patofisiologi
Tempat yang baik sebagai tempat tumbuhnya kuman adalah di daerah bekas insersio (perlekatan) plasenta.
a)    Setelah kala III, daerah bekas insersio plasenta merupakan suatu luka dengan diameter 4 cm. Permukaan tidak rata, berlekuk-lekuk terkena banyaknya vena yang ditutupi trombus
b)   Daerah ini merupakan tempat yang paling baik untuk tumbuhnya kuman dan masuknya jemis patogen dalam tubuh wanita
c)    Serviks sering kali mengalami perlukaan pada persalinan, demikian pula dengan vulva, vagina, dan perineum yang merupakan tempat masuknya kuman patogen.
(Astuti, 2015)
7)      Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas dapat bersifat lokal dan umum, yaitu:
a)    Infeksi lokal. Ditandai dengan perubahan warna kulit, timbul nanah, bengkak pada luka, lochia bercampur nanah, mobilitas terbatas, serta suhu badan meningkat
b)   Infeksi umum. Ditandai dengan sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi meningkat, pernafasan meningkat dan sesak, kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma, gangguan involusi uteri, lochia berbau, serta bernanah dan kotor.
Tanda dan gejala umu dari infeksi puerperalis yaitu:
c)    Penigkatan suhu
d)   Takikardia
e)    Nyeri pada pelvis
f)    Demam tinggi
g)   Nyeri tekan pada uterus
h)   Lhocia berbau busuk/menyengat
i)     Penurunan uterus yang lambat
j)     Nyeri dan bengkak pada luka episiotomi
(Astuti, 2015)

8)      Tempat-Tempat Infeksi Nifas
Infeksi dapat terjadi pada bagian organ tubuh sesuai dengan penyebaran kumannya.
a)    Infeksi trauma vulva, perineum, vagina, atau serviks
Tanda dan gejala infeksi episiotomi, laserasi, atau trauma jalan lahir meliputi :
(1)   Nyeri lokal
(2)   Disuria
(3)   Suhu tubuh rendah, jarang diatas 38,3ºC
(4)   Edema
(5)   Sisi jahitan menjadi merah dan inflamasi
(6)   Mengeluarkan pus atau eksudat berwarna abu-abu kehijauan
(7)   Pemisahan atau terlepasnya luka operasi.
(Astuti, 2015)
b)   Endometritis
Tanda geala endometritis dijelaskan sebagai berikut:
(1)     Peningkatan demam secara persisten hingga 40ºC, bergantung pada keparahan infeksi.
(2)     Takikardia
(3)     Menggigil dengan infeksi berat
(4)     Nyeri tekan uteri menyebar secara lateral
(5)     Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual
(6)     Sub-involusi
(7)     Lochia sedikit, tidak berbau, atau berbau tidak sedap, serta lochia seroporulenta.
Penyebaran endometritis jika tidak ditangani dapat menyebabkan salpingitis, tromboflebitis septik, peritonitis, dan fasilitas nekrotikans. Setiap dugaan adanya infeksi yang memburuk, gejala yang tidak dapat dijelaskan, atau nyeri akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan.
(Astuti, 2015)
c)    Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defenese musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemrah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi.
(Yanti dan Sundawati, 2014)
d)   Sellulitis Pelvika (parametritis)
Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari 1 minggu disertai dengan rasa nyeri dikiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika.
Pada perkembangan peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaann dalam dapat di raba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan, ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam 2 per 3 kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu.
Tumor disebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.
(Yanti dan Sundawati, 2014)
e)    Mastitis
Mastitis adalah infeksi payudara. Messkipun dapat terjadi pada setiap wanita, mastitis semata mata merupakan komplikasi pada wanita menyusui. mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (misalnya glandula, jaringan ikat, areola, lemak) oleh organisme infeksius atau adanya cedera payudara. Organisme penyebab yang umum diantaranya Staphylococcus aureus, Streptococcus, dan H. Parainfluenzae. Cedera payudara dapat disebabkan memar akibat manipulasi yang kasar, pembesaran payudara, statis air susu ibu dalam duktus, serta pecahnya atau fisura puting susu. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber :
(1)   Tangan ibu
(2)   Tangan orang yang merawat ibu atau bayi
(3)   Bayi
(4)   Bayi telah dikaitan dengan mastitis
Hal ini masuk akal karena stres dan keletihan dapat menyebabkan kecerobohan dalam teknik penanganan, terutama saat mencuci tangan, atau melewatkan waktu menyusui, atau mengubah frekuensi menyusui yang dapat menyebabkan pembesaran yang statis.
Penangan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Pencegahan dilakukan dengan upaya-upaya seperti :
(1)   Mencuci tangan dengan sabun antibakteri secara cermat
(2)   Mencegah pembesaran payudara dengan menyusui sejak awal dan sering
(3)   Memposisikan bayi dengan tepat pada payudara
(4)   Menyangga payudara dengan baik tanpa kontriksi
(5)   Membersihkan payudara hanya dengan air dan tanpa bahan pengering
(6)   Mengobservasi bayi setiap hari terhadap adanya infeksi kulit atau tali pusat
(7)   Menghindari kontak dekat orang yang diketahui menderita infeksi atau lesi Staphylococcus.
Puting susu yang pecah atau fisura dapat menjadi jalan masuk terjadinya infeksi S. Aureus. Pengolesan beberapa tetes air susu diarea puting susu pada akhir menyusui meningkatkan penyembuhan. Selain pembesaran berat, prekursor tanda dan gejala mastitis biasanya tidak ada sebelum akhir minggu pertama pasca partum. Setelah masa itu wanita mungkin mengalami gejala-gejala berikut:
(1)   Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara yang diperberat jika bayi menyusu.
(2)   Gejala mirip flu, nyeri otot, sakit kepala, dan keletihan.
Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara, tanda dan gejala aktual mastitis meliputi:
(1)   Peningkatan suhu yang cepat dari 39,5-40ºC
(2)   Peningkatan kecepatan nadi.
(3)   Menggigil.
(4)   Malaise umum, sakit kepala.
(5)   Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, serta area payudara keras.
Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10% beresiko terbntuknya abses. Tanda gejala abses meliputi:
(1)   Discharge puting susu purulenta
(2)   Demam remiten (suhu naik turun) disertai menggigil
(3)   Pembengkakan payudara dan sangat nyeri, massa besar dan keras dengan area kulit memiliki warna berfluktasi kemerahan dan kebiruan yang mengidentifikasi lokasi abses berisi pus.
Ika diduga mastitis, maka intervensi dini dapat mencegah perburukan. Intervensi meliputi beberapa tindakan higiene dan kenyamanan.
(1)   Bra yang cukup menyangga tetapi tidak ketat
(2)   Perhatian yang cermat saat mencuci tangan dan perawatan payudara.
(3)   Kompres hangat pada area yang terkena
(4)   ‘masase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran air susu
(5)   Peningkatan asupan cairan
(6)   Istirahat
(7)   Membantu ibu menentukan prioritas untuk mengurangi stres dan keletihan dalam kehidupannya.
(8)   Suportif, serta pemeliharaan perawatan ibu.
(Astuti, 2015)
f)    Tromboflebitis
Tromboflebitis postpartum lebih umum terjadi pada wanita penderita varikositis atau pada mereka yang secara genetik rentan terhadap relaksasi dinding vena dan statis vena. Kehamilan menyebabkan statis vena dengan relaksasi dinding vena akibat efek progesteron dan tekanan pada vena oleh uterus.
Tromboflebitis adalah penjalaran infeksi melalui vena yang merupakan penyebab kematian karena infeksi puerperalis. Dua vena yang biasanya terlibat:
(1)     Vena-vena dinding rahim dan ligamen latum (vena ovarika, vena uterina, dan vena hipogastrika)
(2)     Vena tungkai (vena femoralis, vena poplitea, dan vena saphena)
Tromboflebitis terdiri dari tromboflebitis pelvik dan trombofeblitis femoralis. Masing-masing akan dijelaskan berikut ini :
(1)     Tromboflebitis pelvik
Vena yang paling sering meradang adalah vena ovarika karena mengalirkan darah dari luka bekas plasenta. Penjalaran tromboflebitis pada vena ovarika kiri ke vena renalis. Dan dari vena ovarika kanan ke vena kava inferior. Trombosis teradi untuk menghalangi penjalaran kuman. Dengan proses ini infeksi bisa sembuh, tetapi jika daya tahan tubuh rendah, maka trombus dapat menjadi nanah.  Bagian-bagian kecil trombus terlepas dan terjadilah emboli atau sepsis. Embolus ini mengandung nanah yang disebut sebagai pyaemia. Embolus ini biasanya tersangkut pada paru, ginjal, atau katup jantung. Pada paru dapat menimbulkan infark. Jika daerah yang mengalami infark cukup besar, maka ibu dapat meninggal secara mendadak. Jika ibu tidak meninggal, maka dapat timbul abses paru.
(3)     Tromboflebitis femoralis
Dapat terjadi sebagai berikut:
(1)Dari tromboflebitis vena saphena magna atau peradangan vena femoralis itu sendiri.
(2)Penalaran tromboflebitis vena uterina (vena uterina, vena hipogastrika, vena iliaka eksterna, vena femoralis)
(3)Akibat parametritis
Tromboflebitis pada vena femoralis dapat terjadi karena aliran darah yang lambat di daerah paha karena vena tersebut tertekanoleh ligamentum inguinale, selain itu didukung pula kadar fibrinogen yang tinggi dalam masa nifas. Pada tromboflebitis femoralis, edema tungkai terjadi mulai dari jari kakidan naik ke kaki, betis, dan paha. Tromboflebitis dimulai dari vena saphena atau vena femoralis, sebaliknya jika terjadi sebagai lanjutan tromboflebitis pelvica, maka edema mulai terjadi pada paha dan kemudian turun ke betis. Biasanya hanya satu kaki saja yang bengkak, tapi ada kalanya keduanya. Tromboflebitis femoralis jarang menimbulkan emboli. Penyakit ini juga dikenal dengan nama phlegmasia alba dolens (radang yang putih dan nyeri).
(Astuti, 2015)
g)   Hematoma
Hematoma adalah pembengkakan jaringan yang berisi darah. Bahaya hematoma adalah kehilangan sejumlah darah karena hemoragi, anemia, infeksi. Hematoma terjadi karena ruptur pembuluh darah spontan atau akibat trauma. Pada siklus reproduktif, hematoma sering kali terjadi selama proses melahirkan atau segera setelahnya, seperti hematoma vulva, vagina, atau hematoma ligamentum latum uteri.
Penanganan untuk hematoma ukuran kecil dan sedang mungkin dapat secara spontan diabsorpsi. Jika hematom terus membesar dan bukan menjadi stabil, bidan harus memberitahukan dokter konsultan untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut dan penting untuk mengonsultasikannya dengan dokter.
(Dewi dan Sunarsih, 2014)

9)      Pencegahan
Tindakan pencegahan atau preventif dapat dilakukan mulai dari masa kehamilan sampai dengan masa nifas.
a)    Masa Kehamilan
Pencegahan terjadinya infeksi dilakukan sedini mungkin yaitu mulai dari masa kehamilan sehingga tidak terjadi infeksi yang berkelanjutan. Tindakan yang dilakukan antara lain:
(1)   Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi, seperti anemia, malnutrisi, dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.
(2)   Tidak melakukan pemeriksaan dalam kecuali jika ada indikasi yang perlu.
(3)   Menghindari atau mengurangi koitus pada hamil tua dan melakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Jika ini terjadi, maka infeksi akan mudah masuk ke dalam jalan lahir.

b)   Selama Persalinan
Upaya-upaya pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin masuknya kuman kedalam jalan lahi dengan cara:
(1)   Menghindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama serta menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut.
(2)   Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
(3)   Membersihkan dan menjahit dengan sebaik-baiknya perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan, baik pervaginam, maupun perabdominal, serta menaga sterilitas.
(4)   Mencegah terjadinya perdarahan yang banyak. Bila terjadi perdarahan, maka darah yang hilang harus segera diganti dengan transfusi darah.
(5)   Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker. Orang yang sedang mengalami infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin.
(6)   Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama.
(7)   Menghindari pemeriksaan dalam berulang-ulang. Pemeriksaan ini dilakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, terutama bila ketuban telah pecah.
c)    Masa Nifas
Tindakan atau asuhan yang diberikan  secara benar dapat menghindari teradinya infeksi pada masa nifas, diantaranya yaitu dengan cara:
(1)   Merawat luka-luka dengan baik jangan sampai terkena infeksi, begitupula dengan alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus di steril.
(2)   Mengisolasi ibu yang mengalami infeksi nifas dalam ruangan khusu, tidak bercampur dengan ibu yang sehat
(3)   Sedapat mungkin membatasi pengunjung dari luar pada hari-hari pertama.
(Astuti, 2015)
10)  Penanganan
Agar suatu infeksi masa nifas dapat diatasi, maka diperlukan penanganan yang adekuat, diantaranya yaitu dengan cara:
a)    Mengukur suhu sedikitnya 4 kali sehari
b)   Memberikan terapi antibiotik
c)    Memperhatikan pola makan (diet)
d)   Melakukan transfusi darah bila perlu
e)    Hati-hati bila terdapat abses. Nanah dijaga supaya tidak masuk kedalam rongga perineum.
(Astuti, 2015)



c.    Pre-eklamsia dan Eklamsia
Hipertensi dalam kehamilan atau yang dikenal sebagai pre-eklampsia dan jika hipertensi ini disertai kejang maka disebut sebagai eklamspsia merupakan salah satu dari tiga penyebab kematian tertinggi di Indonesia selain perdarahan dan infeksi. Pre-eklampsia dan eklampsia ini juga dapat terjadi pada masa nifas.
1)      Pre eklamsia
Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang dapat menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan, serta masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi.
a)   Pengertian
Pre-eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema, dan proteinuria, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kelainan vaskular atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejala biasanya muncul setelah kehamilan berusia 28 minggu atau lebih. Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi yang disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia 20 minggu atau segera setelah persalinan.
b)   Klasifikasi
(1)   Pre-eklampsia ringan
(1) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring telentang, atau kenaikan distolik 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
(2) Edema terdapat pada kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih perminggu.
(3) Proteinuria kuantitatif 0.3 gram atau lebih per liter, kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream.
(2)   Pre-eklampsia berat
(1) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
(2) Proteinuria 5 gram atau lebih per liter
(3) Oliguria, yaitu jumlah urin kurang fdari 500cc per jam.
(4) Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri pada epigastrium
(5) Terdapat edema paru dan sianosis
c)   Faktor resiko
Faktor resiko pre-eklampsia meliputi kondisi medis yang berpotensi menyebabkan pre-eklampsia seperti primi gravid, diabetes militus, mola hidatidosa, kehamilan ganda, hidrops fetalis, usia lebih dari 35 tahun, dan obesitas.



d)   Perubahan patologis
(1)   Hati
Terjadi nekrosis, trombosis pada lobus hati, serta nyeri di epigastrum yang disebabkan karena perdarahan subkapsular.
(2)   Retina
Spasme arterior, edema di sekitar diskus optikus, dan ablosio retina (lepasnya retina) menyebabkan penglihatan kabur.
(3)   Otak
Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak, perdarahan, dan nekrosis yang menimbulkan nyeri kepala yang berat.
(4)   Paru
Pada berbagai tingkat edema bronkopneumonia sampai abses dapat menyebabkan sesak nafas sampai sianosis.
(5)   Jantung
Perubahan degenerasi lemak dan edema serta perdarahan subendokardial dapat menimbulkan dekompensasio kordis sampai henti fungsi jantung.
(6)   Plasenta
Spasme arteriol yang mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai kematian janin. Spasme yang berlangsung lama dapat mengganggu pertumbuhan janin.
(7)   Ginjal
Spasme arteriol menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga filtrasi glomelurus berkurang, serta terjadi retensi air dan garam. Oleh karena itu, timbul edema pada tungkai, tangan, paru, dan organ lain.
(8)   Pembuluh darah
Permeabilitas terhadap protein semakin tinggi sehingga terjadi ekstravasasi protein ke jaringan. Protein ekstravaskular menarik air dan garam sehingga menimbulkan edema. Hemokonsentrasi darah dapat menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh dan terjadi trombosis.
(Astuti, 2015)

2)      Eklamsia
a)   Pengertian
Eklampsia adalah kelanjutan dari pre-eklamsia dimana eklampsia merupakan kasus akut pada ibu dengan pre-eklampsia yang disertaai dengan kejang menyeluruh dan koma. Eklampsia postpartum umumnya hanya terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Pada ibu dengan pre-eklampsia yang akan kejang, umumnya mengalami geala-gejala yang khas.


b)   Tanda dan geala eklamsia
Tanda dan gejala yang terdapat pada eklamsia adalah kejang-kejang atau koma. Kejang dalam eklampsia terdiri dari 4 tingkat, meliputi:
(1)   Tingkat awal
Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong), kelopak mata dan tangan bergetar, kepala di putar ke kanan dan ke kiri.
(2)   Stadium kejang otak
Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti, muka kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
(3)   Stadium kejang klonik
Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa, dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlagusng 1-2 menit, kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik napas seperti mendengkur.
(4)   Stadium koma
Lamanya ketidaksadaran ini berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang di antara kesadaran timbul serangan baru, dan akhirnya penderita tetap berada dalam keadaan koma.
c)   Penatalaksanaan
Prinsip dasar pengelolahan eklampsia berdasarkan Konsesus Himpunan Kedokteran Fetomaternal Indonesia, yaitu:
(1)   Terapi suportif untuk stabilisasi
(2)   Airway, breating, circulation (ABC)
(3)   Mengatasi dan mencegah kejang
(4)   Koreksi hipoksemia dan asidemia
(5)   Mengatasi dan mencegah penyulit, khususnya krisis hipertensi.
Prinsip pengobatan eklampsia pada ibu nifas adalah menghentikan kejang yang terjadi dan mencegah kejang berulang. Penatalaksanaan pre-eklampsia berat dan eklampsia yaitu:
(1)   Mencari pertolongan dengan segera untuk mengatur rujukan ke rumah sakit. Jelaskan dengan tenang dan secepatnya kepada ibu, suami, dan keluarga tentang apa yang terjadi.
(2)   Membaringkan ibu pada posisi miring ke kiri, memberikan oksigen (4-6 L/menit) jika ada.
(3)   Memberikan RL 500 cc IV dengan jarum berlubang besar (16G dan 18G).
(4)   Memberikan MgSO4 40% IM 10 g (5g IM pada setiap bokong) sebelum merujuk
(5)   Mengulang pemberian MgSO4 40% IM, 5 g setiap 4 jam, bergantian di setiap bokong. MgSO4 untuk pemberian IM bisa dikombinasikan dengan 1 cc lidokain 2%.
(6)   Jika memungkinkan, dimulai untuk memberikan dosis awal larutan MgSO4 20%, 4 g IV 20 menit sebelum pemberian MgSO4 IM.
(7)   Jika terjadi kejang, ibu dibaringkan pada posisi miring kekiri, dibagian tempat tidur atau lantai yang aman, mencegah ibu terjatuh, tetapi jangan mengikat ibu. Jika ada kesempatan, menempatkan benda yang dibungkus dengan kain lembut diantara gigi ibu. Jangan memaksakan membuka mulut ibu ketika kejang terjadi. Setelah kejang berlalu, isap lendir pada mulut dan tenggorokan ibu bila perlu.
(8)   Memantau dengan cermat tanda dan gejala keracunan MgSO4. Jangan memberikan MgSO4 selanjutnyaxjika ditemukan tanda-tanda dan gejala keracunan.
(9)   Jika terjadi henti nafas (apnea) setelah pemberian MgSO4, maka diberkan kalsium glukonat 1 g (10cc dalam larutan 10%) IV secara perlahan-lahan sampai pernafasan pulih kembali.ventilasi dilakukan pada ibu denganmenggunakan ambubag dan masker.
(10)     Bila ibu mengalami koma, posisi ibu dipastikan miring ke kiri dengan kepala sedikit ditengadahkan agar jalan nafas tetap terbuka.
(11)     Semua obat yang diberikan dicatat, termasuk keadaan ibu beserta tekanan darah setiap 15 menit.
(12)     Ibu segera di bawah ke rumah sakit setelah serangan kejang berhenti. Ibu didampingi dalam perjalanan dan diberikan obat-obatan lagi jika perlu. (jika teradi kejang lagi, maka diberikan 2 g MgSO4 IV secara perlahan-lahan dalam waktu 5 menit, namun tetap diperhatikan jika ada tanda-tanda keracunan MgSO4).
(13)     Pemberian obat antihipertensi dapat diberikan jika tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg, tekanan darah diastolik > 105 mmHg, atau tekanan arteri rata-rata (MAP) = 125 mmHg. Terapi anthipertensi bertujuan untuk menurunkan resiko gangguan autoregulasi serebrovaskular akibat hipertensi, sehingga hiperperfusi yang dapat menimbulkan edema serebri dapat dicegah.
(Astuti, 2015)
d.      Emboli Masa Nifas
1)      Pengertian
Emboli adalah penyumbatan mendadak pada pembuluh darah arteri oleh bekuan atau benda asing yang terbawa oleh aliran darah ke tempat bersangkutannya.

2)      Macam-macam emboli
a)      Udara       : Emboli akibat masuknya gelembung gelembung udara kedalam pembuluh vena setelah trauma atau pembedahan
b)      Serebral    : Embolisme pada arteri serebral
c)      Koronal    : Embolisme pada arteri koroner
d)      Lemak      : Obstruksi oleh emboli lemak, kususnya terjadi setelah fraktur tulang panjang
e)      Infektif     : Obstruksi oleh ombolus yang mengandung bakteri atau racun septik
f)       Miliary      : Embolisme yang mengenai banyak pembuluh darah kecil.
g)      Paradoksial: Penyumbatan pada arteri sistemik oleh trombus yang berasal dari vena sistemik akibat lewatnya trombus ini melalui defek dalam septum interatrial atau interventrikular.
h)      Pulmonal  : Obstruksi arteri pulmonalis atau salah satu cabangnya oleh embolus
3)      Cara mengatasi
Ditangani melalui istirahat dengan meninggikan kaki dan pemberian obat seperti asidum asetilsalisilikum (asam asetilsalisilat). Jika terdapat tanda peradangan, maka dapat diberikan antibiotik. Segera setelah rasa nyeri hilang, ibu dianjurkan untuk mulai berjalan.
(Astuti, 2015)
e.       Infeksi Saluran Kemih
1)      Pengertian
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering terjadi pada ibu postpartum dan memiliki angka morbiditas yang tinggi hingga 95%. Penyebabnya antara lain trauma jalan lahir selama persalinan, inkontinensia urin, pemasangan instrumen kateter urin, anestesi yang menyebabkan ibu postpartum tidak dapat berkemih secara normal, serta kurangnya kebersihan vulva dan vagina yang mengakibatkan infeksi pada saat nifas. Organisme penyebabnya adalah Escherichia coli. Infeksi ini dapat menyebabkan pielonefritis yang kronis.
2)      Tanda dan Gejala
Tanda-tanda ISK tidak khas, sebagian diantaranya bahkan tanpa gejaa. Biasanya keluhan yang sering dijumpai antara lain:
a)      Nyeri saat buang air kecil (disuria)
b)      Urin keluar sedikit-sedikit dan sering (pollakiuria)
c)      Nyeri diatastulang kemaluan atau perut bagian bawah (suprapubik)
d)      Nyeri atau rasa tidak nyaman dipinggang, mual, muntah, lemah, demam, menggigil, dan sakit kepala.


3)      Penanganan Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Nifas
Agar suatu infeksi dapat segera diatasi, maka perlu dilakukan penanganan dengan benar, diantaranya:
a)      Spesimen midstream dari urin diambil untuk pemeriksaan bakteriologis.
b)      Memberikan terapi antibiotik (berkolaborasi dengan dokter). Antibiotik yang cocok diantaranya: ampisilin, nitrofurantion, atau asam nalidiksat.
c)      Metode pengobatan peroral dengan campuran kalium sitrat. E. Coli tumbuh subur di urin yang bersifat asam, campuran tersebut akan membuat urin bersifat alkali yang dapat menghambat pertumbuhannya.

(Astuti, 2015)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah cidera leher

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar belakang Kecelakaan atau cidera dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan siapa saja. Menurut Andun Sudijandoko (2000: 31) cidera tersebut ditandai dengan adanya rasa sakit, pembengkakan, kram, memar, kekakuan dan adanya pembatasan gerak sendi serta berkurangnya kekuatan pada daerah yang mengalami cidera tersebut. Sebelum ke Rumah Sakit, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah evaluasi awal tentang keadaan umum penderita, untuk menentukan apakah ada keadaan yang menancam kelangsungan hidupnya. Leher merupakan bagian dari kolom fleksibel yang panjang, yang dikenal sebagai kolom atau tulang punggung tulang belakang, yang membentang melalui sebagian besar tubuh. Tulang belakang leher (daerah leher) terdiri dari tujuh tulang (C1 – C7 vertebra), yang dipisahkan satu sama lain oleh diskus invertebralis. Cedera servikal merupakan penyebab yang paling sering dari kecacatan dan kelemahan setelah trauma. Tulang servikalis terdiri dari 7 tul...

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1   Konsep Teori Masa Nifas 2.1.1         Pengertian Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Sulistyawati, 2015). Masa nifas atau pueperium berasal dari bahasa latin yaitu dari kata "puer" yang artinya bayi dan "parous" yang artinya melahirkan. definisi masa nifas adalah masa dimana tubuh ibu melakukan adaptasi pasca persalinan , meliputi perubahan kondisi tubuh ibu hamil kembali kekondidi sebelum hamil. masa ini dimulai setelah plasenta lahir, dan sebagai penanda berakhirnya masa nifas adalah ketika alat-alat kandungan sudah kembali seperti keadaan sebelum hamil. sebagai acuhan rentang masa nifas berdasarkan penanda tersebut adalah 6 minggu atau 42 hari. (Astuti, dkk. 2015) Masa nifas disebut juga masa post partum atau peurperium adalah ma...

Makalah Andropause

BAB I PENDAHULUAN 1.1     Latar Belakang Andropause atau kadang disebut “menopause pria” umumnya terjadi pada pria separuh baya, kira-kira waktunya sama ketika seorang wanita mengalami menopause. Namun tidak seperti menopause pada wanita, dimana hormon estrogen mengalami penurunan secara tiba – tiba, hormon testosteron pada pria menurun perlahan sesuai dengan pertambahan usia (proses penuaan). Penurunan dimulai usia 30 tahunan, menurun sekitar 1-2% walaupun bervariasi pada tiap individu. Andropause dialami setengah dari pria yang berusia 50 tahun ke atas. Namun usia Andropause dipengaruhi banyak faktor, diantaranya gaya hidup. Jika hidupnya selalu senang atau sehat, Andropause dialami pada usia lebih tua lagi. Jika gaya hidupnya tidak sehat, misalnya merokok, mengonsumsi minuman keras, seseorang akan lebih cepat mencapai Andropause (Saryono, 2010: 67). Pria selama ini tidak mengetahui tanda gejala dari Andropause sehingga para pria sering meminum obat “kuat” unt...